Total Tayangan Halaman

Senin, 10 November 2014

Berbicara pada Gerimis



Grimiss... Aku ingin menangis... Kenapa setiap ada kamu aku selalu ingat dia.  Kamu begitu indah diantara pepohonan diterpa semilir angin. Tapi aku sudah tidak bisa merasakan keindahanmu saat ini. Kepedihan hatiku membuat aku bisa sesakit ini. Ini sakit yang tidak wajar.. sakit yang berbulan-bulan ku rasakan.
Yang aku rasakan hanya dingin merasuk ke dalam tulang rusuk serta jiwaku. Sakit hatiku mengingatkanku saat indah bersamamu dan dia. Iya dia, dia yang dulu sangat menyita hari-hariku. Dia yang dulu setiap waktu selalu ada untuk aku. Mendengar cerita-cerita konyolku, hingga suatu hari tak ada cerita lagi. Di tak seperti dulu lagi dan aku bertanya-tanya.
Kubaca lagi puisimu, yang dulu pernah membuat aku seakan melayang akan kata-kata indahnya.
Someday

I don’t know how much longer
That I have to put up with everything
I’ve been hiding all the truth inside my heart
Everytime we meet
Everytime you turn to face me

Though I look indifferent
Do you know how much I have to force myself?
Can you hear my heart calling for you?
Loving you?
But I can’t open my heart for anyone to know
Can you hear it?
My heart keeps waiting there for you
Waiting for you to open it
And hope you will realize
Someday…

Though I love you
Though I feel..
But deep down inside, I don’t dare to tell you
Everytime we meet

And I hope you will realize
That this person loves you
Please I hope you will know
Someday…

Yang ini balasanku waktu itu
Someday.... I hope... you to know that Ilove U too....
Saat itu dan sampai saat ini, perasaanku masih saja tetap sama.
Tapi semua hal tentang kita membuat semakit sanagt banyak perbedaan yang kita miliki...resah... gelisah... dan tak tau lagi apa yang harus aku lakukan saat ini... layaknya terdampar di suatu negara dan kita tidak tahu adat dan dan bahasa merek. Asing-asing benar benar asing... seperti itulah... aku tak ingin seperti ini... tetapi apa ini... semakin ku rasa semakin ku berbeda.

Memang perbedaan kami cukup jauh, perbedaan yang tak bisa aku ungkap. Walaupun hatiku nyaman saat berada di sisinya,. Tetapi tak dapat ku pungkiri jika prinsip kami berbeda hingga susah untuk menyatukan hal itu. Rasa tak nyaman pun semakin menghinggapi hubungan kami. Hingga pada akhirnya aku mengerti dia mencari kenyamanan hati lain. Hatinya terbagi dengan yang lain. Itu semakin membuat jarak hingga aku menjadi semakin hancur. Ahhh dia, yaa dia benar-benar menyita waktu dan pikiranku.

Orang itu benar-benar menghancurkanku. Mereka begitu seenak hati bersama di depanku, dan mengacuhkan aku. Dan aku lebih tidak rela melihat orang yang sekasar itu bersamamu. Perlakuannya ke aku benar-benar menambah kepedihanku. Dengan perilakunya yang norak, dia berbicara sekasar itu ke aku. Yang lebih membuat aku perih, ternyata yang aku sayang dan telah menjalin hubungan yang cukup lama malah menuduh aku sebagai penghancur hibungan pertemanan mereka, dia lebih mempercayai perempuan itu daripada aku. Dia tinggalkan aku begitu saja. Hingga hubungan mereka semakin intens dan aku semakin mengutuk diriku sendiri.

Sesekali dia pernah mngajak untuk kembali bersama namun pada akhirnya aku lah yang kecewa hingga sudah jenuh dan tak lagi percaya.

Sampai hari ini aku mulai kembali merajut renda-renda hidupku yang tersobek olehnya.
Bantu aku gerimis, untuk kembali bersemangat. Toh hidup sangat universal, aku harus sukses, aku harus membuat semua yang sayang aku bahagia. Aku ingin membuat kedua orang tuaku tersenyum selalu. Itulah yang paling utama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar